Wisma Atlet Corona

Written by Kim on February 2, 2021 in Varian Baru Virus Corona with no comments.

BANDUNG, KOMPAS — Keterisian tempat tidur untuk perawatan berat dan kritis Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, mencapai ninety persen. Masyarakat diminta menerapkan protokol kesehatan maksimal untuk mengurangi potensi sebaran Covid-19 yang semakin tinggi ini. “Nanti begini metodenya, orang-orang yang dinyatakan positif tetapi masih sehat atau tidak menunjukkan gejala penyakit, maka mereka bisa isolasi di rumah,” terang Arya dalam konferensi pers di Jakarta, 24 Maret 2020. Namun, langkah-langkah penyiapkan tempat mattress rawat tambahan bagi pasien Covid-19 dengan keluhan ringan terus dilakukan, dengan memanfaatkan tempat tidur di hotel bintang 2 dan 3. Untuk keperluan itu, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran untuk penyewaan hotel, dan alokasi itu telah disertakan dalam tambahan anggaran Rp3,5 triliun untuk BNPB. Mengingat penularan virus Covid-19 ini mudah dan cepat menyebar, maka penting bagi setiap warga untuk tetap berada di rumah saja.

“Kadang banyak netizenyang bicara di media sosial kalau pemerintah tidak bisa memberikan yang terbaik untuk rakyatnya dalam penanganan Covid-19 ini, tapi semua kan butuh waktu dan proses. Masyarakat cukup menggunakan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya, toh nanti akan bagus juga dengan seiring waktu,” tuturnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, menurut Ralia, kondisi Wisma Atlet saat ini sudah lebih baik dengan fasilitas yang lebih lengkap.

Kemudian pasien yang meninggal dunia sudah sebanyak 33 orang atau bertambah dua orang dari hari sebelumnya. Tugas mengatakan sekitar 400 tenaga kesehatan baru itu akan melayani pasien yang terus melonjak hingga kapasitas penuh 82,seventy three persen. Ada empat gedung yang sudah diubah menjadi tempat perawatan pasien Covid-19. Khusus gedung atau Tower 6 dan 7 dilengkapi peralatan seperti laboratorium dan ruang radiologi, ruang isolasi untuk merawat pasien Corona.

Lalu berselang 20 menit kemudian saya mendapat panggilan kedua kalinya untuk pendataan identas secara detail termasuk data riwayat penyakit. Setelah itu, saya kembali ke tempat semula, dan kira-kira 30 menit kemudian saya dipanggil ketiga kalinya, untuk melakukan pemeriksaan di ruang ICU yang berseblahan dengan tempat pendaftaran. Untuk mengganjal perut, saya diberikan air mineral dari dokter ICU dan makan yang kebetulan salah satu dokter yang bertugas di Wisma Atlet.

Apalagi kata dia, di Wisma Atlet fasilitas bagus, nyaman dan bisa beraktiftas bebas seperti olahraga dan lain-lain. Ketika itu, saya masih belum yakin one hundred persen, lalu tiba-tiba pimpinan istri saya di salah satu kantor, menelpon. Beliau juga berpesan hal yang sama dengan kawan tadi berdasarkan pengalaman beberapa sahabat beliau yang juga pernah mondok di Wisma Atlet. Akan tetapi, selain dua orang di atas, alasan lain yang makin menguatkan saya untuk mondok di Wisma Atlet adalah keinginan saya memutus mata rantai Covid-19 khususnya di lingkungan keluarga saya. Saya khawatir jika saya tetap isolasi mandiri di rumah, keluarga saya juga terinfeksi virus yang mematikan ini dari saya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengalokasikan anggaran sebesar Rp 100 miliar. Anggaran tersebut termasuk untuk keperluan medis seperti obat, ambulans, dan kunjungan dokter. Berbeda dengan rumah sakit biasa, tidak ada jam besuk atau penunggu pasien sehingga kondisi pasien benar-benar sendirian.

Wisma atlit gratis bagi penderita covid

Sesuai dengan peraturan di atas, biaya perawatan pasien positif Covid-19 di rumah sakit rujukan pun, termasuk Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, dibebaskan atau tidak dipungut biaya sedikit pun. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan, pasien yang dirawat di RS swasta, yang bukan merupakan bagian dari RS rujukan tentunya belum bisa ditanggung. Jadi sebaiknya pasien positif Covid-19 dirujuk ke rumah sakit rujukan yang terdiri atas RS pemerintah dan RS swasta.

Komunikasi dengan dokter atau suster pun tidak bisa menggunakan bel melainkan hanya by way of telepon. Tugas mengungkapkan bahwa rumah sakit darurat sudah terisi four.959 pasien dari 5.994 tempat tidur yang disediakan. Dengan jumlah pasien 3.626 orang, keterisian tempat tidur di RSD Wisma Atlet Kemayoran kini telah mencapai 60,four persen. Di samping itu, rumah sakit milik BUMN dapat juga digunakan untuk menampung pasien terpapar Covid-19 termasuk rumah sakit darurat yang ada di Pulau Galang maupun di Wisma Atlet ini.

Sebelumnya, pemerintah pusat bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia untuk menyiapkan hotel sebagai tempat isolasi pasien COVID-19 tanpa gejala dan gejala ringan. Kadir juga mengimbau pihak rumah sakit untuk mengikuti panduan pemerintah dalam pemberian obat pada pasien Covid-19. Dengan demikian, pasien tidak perlu mengeluarkan uang saat melakukan perawatan di rumah sakit. Ilman dan Vika, yang dirawat di unit flat eleven lantai 4, Tower 7, bukan satu-satunya pasangan suami istri yang menjalani perawatan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran.

Jumlah pasien 2.751 orang tersebut tersebut bertambah 17 orang dibandingkan hari sebelumnya sebanyak 2.734 pasien. Jumlah pasien Covid-19 di Tower 4, Tower 5, Tower 6, dan Tower 7 tersebut terdiri dari 1.271 laki-laki dan 1.480 perempuan. Ada juga laporan warga yang harus membeli dan atau menyewa ventilator untuk keluarga yang tengah menjalani pemeriksaan. Pasien Covid-19 umumnya menghabiskan waktu 12 hari di Wisma Atlet, yaitu 10 hari perawatan serta dua hari menunggu hasil swab test Game Slot Online dan pengurusan berkas.

Comments are closed.